Dapatkah Hidup Dalam Perbedaan?

Tidak ada manusia yang sama. Bahkan, seseorang yang memiliki saudara kembar siam pun tidak akan sama persis. Kondisi fisik bisa saja sama, tetapi tidak dengan karakternya. Inilah anggapan yang barangkali sudah terlalu klise. Sering disebut-sebut. Namun, apakah kita benar-benar sadar bahwa kenyataan itu masih terasa sulit diterima?

Tinggal di negeri sendiri, Indonesia, menjadi bukti sederhana bahwa perbedaan akan selalu kita temui. Perbedaan yang bisa dimaknai sebagai keragaman. Tak hanya sebatas keragaman agama dan suku, tetapi juga pengalaman hidup, pola pikir, karakter, dan masih banyak lagi. Keragaman yang tak bisa dimungkiri. Tak perlu takut, apalagi bersusah payah menghindarinya.

Salah satu cara agar kita tetap bisa menikmati perbedaan adalah mulai berpikir terbuka. Bisa dibayangkan jika kita terus-menerus terkungkung dalam satu lingkaran yang lebih banyak menawarkan persamaan. Misal, agama, suku, dan profesi yang sama dengan kita. Alhasil, kita hanya mendapatkan pengetahuan yang terbatas. Kita hanya mengetahui dan percaya bahwa di dunia ini hanya ada satu agama, suku, serta jenis profesi. Ketika suatu hari kita harus keluar dari lingkaran, pikiran begitu sulit menerima kenyataan bahwa di luar sana memiliki beragam agama, suku, dan jenis profesi. Berhati-hatilah, ketidaktahuan sering kali justru menyebabkan kita menjadi pribadi yang merasa tahu segalanya.

Memupuk pola pikir yang terbuka sebenarnya tidak sulit. Mulai dari memperluas jaringan pertemanan, terlibat dalam organisasi di gereja maupun kemasyarakatan, hingga traveling. Ya, ternyata kegiatan pelesir bisa membuat pikiran seseorang lebih terbuka. Jelas sekali bahwa kesenangan tak sekadar asyik mengunggah foto traveling di media sosial.

Cobalah berinteraksi dengan penduduk setempat agar bisa mengenal kehidupannya. Percayalah, ada banyak hal yang bisa menjadi pelajaran dari mereka. Misalnya, salam perkenalan “cium hidung” yang khas dari warga Pulau Rote atau perjuangan para siswa di sudut Nusantara yang berjalan kaki berbelas-belas kilometer demi menuju sekolah. Hal inilah yang semakin menyadari kita bahwa dunia menawarkan banyak cerita dan warna. Perbedaan yang mengandung keberagaman dan bisa dijadikan sebagai pembelajaran. Cerita kehidupan yang berbeda akan memberikan pemahaman sebelum kita menilai orang lain dengan sekejap, tanpa alasan.

Pembelajaran juga dapat dipetik saat kita bergabung dalam sebuah komunitas relawan dalam lingkup masyarakat. Semua orang bergabung di dalamnya. Bahkan, orang-orang tersebut baru dipertemukan dua minggu sebelum kegiatan kerelawanan dilakukan. Setiap grup harus membuat keputusan sebelum kegiatan dilaksanakan. Perbedaan pendapat sudah pasti terjadi. Namun, bukan berarti perbedaan pola pikir dijadikan sebagai halangan. Antaranggota bisa saling berdiskusi hingga menghasilkan keputusan terbaik. Semua kembali pada tujuan awal, yaitu alasan para relawan yang bergabung. Hal yang juga bisa kembali mempersatukan dan mencegah konflik adalah mengingat kembali hukum kasih. Selalu mujarab untuk mengusir amarah.

Jadi, tak perlu larut dalam kecemasan. Keberagaman pola pikir tetap bisa bergerak bersama-sama karena disatukan oleh misi dan visi yang sama.  Tak jauh berbeda dengan penduduk Indonesia. Keberagaman dipersatukan dalam rumusan Sumpah Pemuda pada 88 tahun silam. Menjadi perwakilan dari berbagai penjuru Nusantara, para pemuda berkumpul bersama menyatakan bahwa mereka bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan bersama-sama menjunjung bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia. Semoga kita tidak melupakan tonggak sejarah ini. Fondasi kebersamaan yang semestinya tetap dilestarikan demi keutuhan bangsa.

Lalu, dapatkah kita hidup dalam perbedaan? Jawabannya ada di dalam hati kita sendiri. [GANDES]
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39)