Hidup Beriman dan Berpancasila

Malam makin larut, Ibu Komala masih terus berjaga. Semangat umat di Lingkungan Santa Lucia II Paroki Santo Agustinus Karawaci ini memang tak pernah pudar. Ia masih setia duduk di sudut rumahnya. Ia tak lagi menonton sinetron atau film. Tangannya dengan cekatan merajut manik-manik dua warna, merah-putih.

Perempuan 51 tahun itu terus memasukkan benang ke dalam butiran-butiran kecil. Sesekali ia harus mengangkat muka, menghela napas, lalu merajut lagi. Selang beberapa menit, pernak-pernik merah-putih itu dibentuk menjadi Rosario Merah Putih. Usai menuntaskan tugas, senyumannya tersungging.

Rosario Merah Putih menjadi gerakan bersama Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Gerakan ini bukan ajang pamer dan ikut tren, melainkan direfleksikan dalam Arah Dasar Pastoral KAJ 2016–2020. KAJ merefleksikan, Ardas dalam semangat Pancasila. Alasannya sederhana, gereja harus benar-benar menjadi gereja yang meng-indonesia-kan umat. Sebaliknya, umat Katolik harus menyadari bahwa dirinya sungguh-sungguh Indonesia dan Katolik; Pro Eclesia et Patria.

Gerakan Rosario Merah Putih merupakan satu dari penghayatan Pancasila yang direfleksikan umat Katolik. Sesuai tema Ardas KAJ “Menjadi Gereja yang Bermurah Hati,” diharapkan umat Katolik dalam relasi dengan umat lain menunjukkan semangat murah hati seperti Yesus, Sang Murah Hati. Semangat murah hati juga menjadi penanda semangat Gereja Universal sebagaimana dicanangkan Paus Fransiskus. Tahun 2016 dinobatkan sebagai Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah.

Pancasila sebagai Dasar Negara harus menggema dalam hidup umat Katolik. Pancasila tidak sekadar menjadi semboyan negara, tetapi juga benar-benar mengkristal dalam hati umat. Nilai-nilai yang termaktub dalam Pancasila, yakni ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan harus menjadi modal orang Katolik dalam membangun kerja sama dengan agama lain. Nilai ketuhanan, misalnya mengajak seluruh umat untuk melihat Tuhan dalam agama lain sebagai Tuhan yang harus dihormati. Tuhan adalah pencipta langit dan bumi, sebagaimana Tuhan Sang Pencipta dalam iman Katolik.

Kesadaran untuk menghayati nilai-nilai Pancasila harus menjadi penanda Ardas KAJ sekaligus refleksi Gereja Universal. Kemurahan hati harus menandai orang Katolik sebagai orang beriman. Pancasila harus menggerakkan hati semua umat untuk semakin beriman. Mengapa? Iman tumbuh dalam kesadaran mengembangkan lima nilai Pancasila tersebut. Ini merupakan salah satu cara mengungkapkan iman secara benar. Bila Pancasila sebagai dasar negara, maka nilai-nilai di dalamnya juga sebagai dasar orang beriman. Tidak salah bila Mgr. Suharyo dalam Ardas KAJ berpesan bahwa semakin beriman, semakin bermurah hati.

Dengan mengamalkan Pancasila secara jujur, kita yakin bahwa bangsa dan negara Indonesia akan menjadi bangsa yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, adil dan beradab, hidup rukun dilandasi semangat kekeluargaan dan persatuan, cinta Tanah Air dan bangsa, setia dan patuh pada aturan perundang-undangan, demokratis, serta sejahtera yang berkeadilan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sayangnya, terkadang nilai-nilai itu berhenti menjadi idealisme belaka. Masih banyak orang Katolik yang takut beriman di tengah pluralitas Indonesia. Contohnya, orang Katolik “takut” membuat tanda salib saat makan di luar. Padahal, Indonesia lengkap dengan Undang-undang dasar yang mengatur kebebasan beragama.

Masih ada nilai-nilai Pancasila yang dipercundangi hanya untuk keinginan pribadi, partai, atau kelompok. Kenyataan membuktikan masih ada orang Katolik takut mengungkapkan iman secara benar. Masih merasa minoritas di tengah mayoritas. Meski minoritas, seharusnya orang Katolik tetap hadir dan memberi kesaksian kepada orang lain. Misalkan, masuk dalam anggota dewan, anggota partai, menjadi ketua RT, atau RW dan mengkritik ketidakadilan bangsa ini. Mereka takut kalau-kalau nasib mereka berujung duka. Negara dan gereja tidak akan mampu mengamalkan Pancasila bila umat Katolik masih terkotak-kotak dengan perilaku minoritas pasif.

Tak ada jalan keluar lain. Beriman dalam Pancasila berarti mengerti, merefleksikan, dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila. Penjabaran lima nilai Pancasila sangatlah luas dan bisa merangkum semua kebutuhan umat. Sekarang tergantung bagaimana umat bisa berdiri memberi kesaksian di tengah minoritas. Melepaskan semua pemikiran ekslusivisme religius, suku, serta daerah demi nilai luhur Pancasila.

Mengingat perjuangan masa lalu ketika para pahlawan berkorban demi Merah Putih. Pahlawan zaman sekarang adalah orang Katolik yang mau keluar dari pikiran yang sempit demi mengembangkan bangsanya. Beriman dalam Pancasila adalah keluar dan berkarya. Kepintaran seseorang harus ditunjukkan dengan karya nyata bagi bangsa. Melalui cara ini, umat Katolik bisa sungguh-sungguh mengamalkan Pancasila dalam hidupnya. [Yoseph Erwin Wuarmanuk]