Perbedaan yang Menyatukan

Sapaan Gembala ditulis oleh: Antonius Budiman, OSC

Kita semua tentu pernah melihat taman bunga. Setiap orang akan berbeda menikmati taman bunga yang indah itu seperti apa. Ada orang yang menganggap bahwa taman dengan berbagai jenis dan aneka warna bunga adalah taman yang indah. Ada juga orang yang melihat keindahan taman jika taman itu hanya ditanami satu jenis bunga dengan warna seragam. Itulah realitas cara pandang orang yang tentunya berbeda satu dengan yang lain.

Ex pluribus unum. Adagium dalam sastra Latin karya Cicero mau menekankan adanya pengakuan terhadap realitas perbedaan yang ada dalam masyarakat, pengakuan akan adanya kesatuan (kesamaan) di antara yang berbeda. Ikatan persatuan dalam perbedaan menjadi kekuatan sebuah komunitas, masyarakat, atau negara.

Dalam konteks Indonesia, kita tentunya ingat akan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, adagium seorang Mpu Tantular. Mari kita pahami secara integral, tiada “ika” tanpa kebhinnekaan. Sebaliknya, jika kebhinnekaan tanpa keikaan, maka yang terjadi adalah disintegrasi.

Ex pluribus unum. Berbeda-beda, tetapi satu. Dengan kata lain, dari keragaman menjadi satu, mengakui dan menghargai adanya fakta pluralitas; mengakui adanya keanekaragaman, penilaian positif dan penghargaan terhadap realitas berbeda. Dengan demikian, perlu adanya sikap terbuka untuk mengenal, mengakui, menghormati, dan menilai positif perbedaan-perbedaan. Caranya, menggalang semangat saling percaya, meningkatkan kualitas komunikasi dan terus menaruh perhatian pada kesejahteraan umum. Perbedaan yang ada hendaknya dihormati dan dirawat bersama sehingga setiap orang merasa dirinya dihargai dan potensi masing-masing bisa diwujudkan dan bermanfaat.


Persatuan
Lebih lanjut lagi, para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda. Walau berbeda suku, etnis, dan agama, tapi kita adalah satu: Satu Negara Indonesia, Satu Bangsa Indonesia, dan Satu Bahasa Indonesia. Di sinilah kita bisa melihat tiga aspek Persatuan Indonesia.

Pertama, aspek satu nusa yang mau menyatukan pulau-pulau menjadi wilayah Indonesia merdeka, menangkal politik devide et impera yang ingin memecah-belah. Kedua, nama baru dari suku bangsa yang tadinya disebut Hindia Belanda menjadi Bangsa Indonesia, awal mula rasa nasionalisme sebagai kesatuan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Ketiga, ada tujuan agar wilayah baru dan bangsa baru bisa berkomunikasi. Oleh karena itu, bahasa Indonesia dinobatkan menjadi bahasa resmi yang akan dipakai dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Dalam Kitab Suci, persatuan sejati tergambar dalam nubuat nabi Yesaya tentang akan datangnya seorang pemimpin ideal (Mesias) yang mempunyai kualitas mewujudkan persatuan yang harmonis dan membawa perdamaian. Serigala akan tinggal bersama domba, anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, anak-anak akan bermain dekat liang ular tedung dan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat. Pelanggaran manusia pertama telah menghapuskan persatuan dan keharmonisan di antara ciptaan-Nya. Situasi zaman taman Eden ini bisa terwujud saat Mesias datang dan memerintah dengan adil dan benar. Bukankah situasi persatuan tersebut merupakan cita-cita persatuan Indonesia?

Dalam pandangan pribadi saya sendiri, realitas hidup dengan perbedaan tidaklah bisa dimungkiri. Ditambah lagi, kita adalah homo socius yang tak bisa hidup sendirian. Kita hidup bersama dengan orang lain sehingga kita tak bisa memaksakan kehendak sendiri.

Bukan pemecah
Kita bisa saja mengalami gesekan antara satu orang dengan orang yang lain. Ada juga satu orang dengan kelompok yang lain. Bahkan, gesekan antarkelompok. Ada semacam “perang dingin”, tidak saling bicara, hingga mengakibatkan bentrokan kecil.

Apabila memang itu yang terjadi, bukankah bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk mawas diri dan meneliti batin sekaligus sarana untuk menguji diri? Atau, kalau ada yang merasa berada dalam kelompok yang paling benar, bukankah itu menjadi tanda bahwa sang kebenaran masih menjadi isi pencarian? Bukankah itu juga menjadi petunjuk bahwa masih ada mutu yang perlu dipertahankan?

Perang dingin sekalipun sebenarnya tidak mungkin akan menjadi sumber perpecahan. Bentrokan tidak melulu langsung mengakibatkan kehancuran atau persaingan satu dengan yang lain. Tidak lantas pula mampu mencerai-beraikan. Perlu adanya kesadaran bahwa selagi kita semua bersatu dalam komunitas iman, selagi kita bersaudara dengan siapa pun, selagi kita semua masih bisa saling mengasihi dan memaafkan; maka kita bersama-sama masih bisa berbuat banyak untuk melakukan segala sesuatu yang bermutu.

Ketika kita menganggap bahwa perbedaan sebagai pemecah persatuan, bisa jadi pula karena sampai saat ini kita masih sering terpaku pada “aku”, mengedepankan ego masing-masing. Jika masih menggunakan istilah “aku”, maka pembicaraan kita dengan siapa pun seolah-olah hanya “aku” yang telah sukses berkarya. Hanya karena “aku”, semua ini bisa berjalan. Tanpa “aku”, semua tidak akan terjadi. Kultus “aku” seperti inilah yang bisa memecah kebersamaan. Saudara yang serumah, satu komunitas, atau orang-orang yang hidup berkarya bersama-sama dengan kita justru seolah-olah tidak ada kontribusinya.

Semoga kita semakin sadar sebagai communio dalam menggereja. Allah telah mempersatukan kita menjadi umat-Nya. Setiap karya kita berada dalam satu rumah paroki, hendaknya juga menumbuhkan semangat kerja sama antarpersonal dalam paroki.

Tidak ada gunanya menonjolkan kekuatan ego atau kelompok masing-masing karena hal itu justru dapat menghancurkan dari dalam. Sudah saatnya tak lagi mengutamakan ke-aku-an di tengah perbedaan. Dengan adanya sikap terbuka dan rasa saling menghargai, perbedaan bukanlah momok yang terus-menerus harus dihindari. Bagaimana pun, tak semua perbedaan dapat disamakan.

Marilah kita membawa panji-panji paroki untuk semakin menggarami kehidupan kita bersama. Berdaya tak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga bagi sesama. Tuhan memberkati.