MISA SYUKUR DAN PEMBERKATAN GEREJA

M e n s y u k u r i R a h m a t Tu h a n : M e n j a d i K r e a t i f ,

Saling Mengasihi dalam Keragaman
Setelah penantian panjang yang melelahkan, akhirnya Paroki Karawaci dapat memiliki gedung gereja yang jauh lebih ayak dari sebelumnya. Umat bisa beribadah dengan lebih tenang dan nyaman. Kekhusukan umat saat perayaan ekaristi dapat lebih tercipta. Hal yang menggembirakan hati seluruh umat pun dirayakan bersama dalam perjamuan ekaristi yang dipimpin langsung oleh Mgr Ignatius Suharyo. Sebagai konselebran utama, Uskup Agung Jakarta didampingi oleh para konselebran, yakni Provinsial OSC Pastor Basilius Hendra Kimawan, OSC; Pastor Kepala Paroki Karawaci Pastor Stefanus Suwarno, OSC; Pastor Rekan di Paroki Karawaci Pastor Antonius Budiman, OSC; Pastor Clemens Tribawa Saksana, OSC, serta 7 imam lain dari dekenat Tangerang. Misa dihadiri oleh sekitar 3.000 umat Paroki Karawaci serta para undangan.
“Bersatu dalam Keragaman Mensyukuri Rahmat Tuhan” diusung menjadi tema besar perayaan HUT ke-30 Paroki Karawaci. Pastor Suwarno dalam sambutan pada awal misa berharap bahwa umat Paroki Karawaci yang beragam dapat terus bersatu dalam pelayanan dan pengembangan iman.
Sedangkan dalam homili Mgr Ignatius Suharyo, ia mengajak umat Paroki Karawaci untuk menjadi gereja yang hidup, seperti Gereja Anthiokia yang kreatif, hidup, dan bertumbuh menjadi gereja yang terus berkembang hingga sekarang. Pertumbuhan Gereja Anthiokia dilandasi kasih, maka Mgr Ignatius Suharyo juga mengajak umat Paroki Karawaci untuk saling mengasihi satu sama lain.
Bapak Uskup Agung Jakarta itu mengisahkan sejarah awal gereja, di mana gereja bertumbuh di Efesus, Yerusalem, dan Anthiokia. Gereja Efesus hilang tanpa bekas karena gereja yang di bawah pimpinan Rasul Yohanes ini terlibat dalam perselisihan dan pertengkaran antarumat. Gereja Yerusalem yang sangat fundamental berpegang teguh pada ajaran serta hukum Yahudi sulit untuk dapat terbuka pada dunia lain, sulit pula untuk menerima anggota dari luar Yahudi.
Gereja Yerusalem yang dipimpin Rasul Yakobus pun tidak dapat bertahan lama. Sementara itu, Gereja Anthiokia
merupakan gereja yang bertumbuh dengan sangat baik dan kreatif dalam pelayanan serta pengembangan ajarannya. Gereja Anthiokia inilah yang menjadi cikal-bakal Gereja Katolik, termasuk Paroki Karawaci Gereja Santo Agustinus saat ini. Umat dan para imam di paroki ini diharapkan dapat meneladani Gereja Anthiokia agar tetap dapat tumbuh dan terus
berkembang.
Dalam perayaan ekaristi ini, Mgr. Ign. Suharyo berkenan memberkati altar baru sebagai tanda diresmikannya penggunaan gedung gereja yang baru selesai direnovasi. Para konselebran memngurapi tiang-tiang utama gereja. Dan Bapa Uskup juga menandatangani prasasti gedung Gereja Santo Agustinus, Paroki Karawaci

Ramah Tamah
Pesta HUT ke-30 Paroki Karawaci dilanjutkan dengan ramah-tamah. Bapa Uskup, para imam konselebran, serta seluruh umat yang hadir diundang untuk bergembira dan ramah-tamah bersama di halaman gereja. Hadir dalam ramah-tamah itu Kapolsek, Koramil, dan para ulama dari agama lain. Perwakilan Ansor dan Banser Tangerang juga ikut hadir. Kebinekaan dan keragaman tampak sangat menyejukkan hati. Para pemimpin umat beragama yang berbeda saling berjabat tangan, bahkan berpelukan satu sama lain. Ucapan selamat ulang tahun pun dilantunkan oleh para ustaz, para biku, dan pendeta
yang hadir.
Tumpeng tanda syukur dipotong oleh ketiga pastor yang berkarya di Paroki Karawaci. Ketiga potongan tumpeng, lalu diberikan kepada tiga orang umat yang dianggap berjasa besar dalam karya pelayanan di tengah umat selama ini. Mereka tanpa mengenal lelah telah membaktikan dirinya kepada Paroki Karawaci sejak awal berdirinya Paroki. Ketiga orang ini dianggap dapat mewakili mereka yang telah berjasa bagi pertumbuhan dan perkembangan gereja sebagai persekutuan umat di Paroki Karawaci tercinta ini. Mereka adalah Bapak Y. Sarimin, Bapak Seninto, dan Bapak Kasiman.
Kemeriahan yang dibalut suasana kebinekaan mewarnai HUT ke-30 Paroki Karawaci Gereja Santo Agustinus. Umat bersama-sama dengan warga masyarakat lain di sekitarnya mensyukuri rahmat Allah dalam 30 tahun perjalanan Gereja Santo Agustinus Paroki Karawaci dalam keberagaman suku, ras, dan agama. Perbedaan tampak begitu indah dalam kebersamaan pada malam itu. Semangat “Kita Bhinneka, Kita Indonesia” digemakan bersama oleh semua yang hadir.
[IBRO]