Misa UBK Kedua: Bersyukur atas Anugerah Tuhan

Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) Paroki Karawaci, Gereja Santo Agustinus yang tergabung dalam komunitas AGAPE pada hari Sabtu (12/10) menggelar ekaristi kudus yang dipimpin oleh Romo Stefanus Suwarno OSC. Dalam pembukaan misa yang diikuti oleh puluhan orang ini Romo Warno mengungkapkan kerinduannya untuk bertemu secara pribadi dengan semua warga komunitas AGAPE di rumah masing-masing.

Romo Stefanus Suwarno OSC memimpin misa UBK di Gereja Santo Agustinus

“Romo minta maaf karena belum bisa mengunjungi satu per satu ke rumah anak-anak yang saya kasihi. Romo minta alamat semua anak-anak dan berjanji untuk datang berkunjung ke rumah semuanya,” ujar Romo dalam pembukaan misa.

Romo juga mengungkapkan rasa syukurnya sehingga bisa bersama-sama merayakan ekaristi kudus sekaligus menjadi kebahagiaan Romo bisa berjumpa secara langsung dengan komunitas AGAPE.

Dalam homilinya, Romo mengucapkan terima kasih kepada keluarga yang telah mengantarkan anak-anak yang istimewa ke depan altar untuk bersyukur atas anugerah hidup yang telah diberikan Allah.

Selanjutnya dalam homili kali ini Romo menceritakan tentang pengalamannya saat berkarya di daerah Asmat, Papua. Romo menggambarkan keindahan dan eksotisme alam Asmat yang wilayahnya terendam air pada saat pasang dan kemudian kering pada saat air surut. Karena keadaan alam yang seperti ini, mustahil bagi warga Asmat untuk bercocok tanam sayur mayur di lahan mereka.

Dengan keadaan alam yang tidak memungkinkan untuk menanam sayuran, Romo mempunyai ide untuk membuat pematang pada lahan yang sering kebanjiran air ini yang berada di seputar lingkungan pastoran di Asmat. Pematang yang dibuat lebih tinggi inilah yang digunakan oleh Romo untuk bercocok tanam sayur-sayuran seperti labu, cabai, sawi dan lain-lain.

Setelah beberapa lama, ide Romo ini membuahkan hasil. Sayur-sayuran bisa tumbuh dengan subur dan hasilnya melimpah. Masyarakat sekitar pun satu per satu mulai belajar bercocok tanam dengan cara yang dilakukan oleh Romo. Bibit pun diberikan oleh Romo dari hasil sayur-mayur yang sudah dipanen.

Sejak saat itu masyarakat seputar pastoran tidak kekurangan sayur-mayur lagi. Bahkan hasil panen sayur mayur yang berlebih bisa dijual ke masyarakat luas.

Ada satu peristiwa yang membuat Romo terinspirasi dengan bacaan Injil hari ini yaitu ketika seorang Oma datang ke Pastoran naik perahu sambil membawa tiga buah labu yang panjang. Oma ini mengatakan bahwa tiga buah labu ini dipersembahkan untuk Romo karena dia baru saja memanen sayur mayur yang melimpah. Oma ini memberikan tiga buah labu ini dengan suka cita.

Dari peristiwa ini, Romo teringat bahwa dari ratusan orang yang sudah belajar tentang cara bercocok tanam, hanya ada satu Oma yang datang mempersembahkan tiga buah labu hasil panennya. Perisitiwa ini menurut Romo sesuai dengan bacaan hari ini (Injil Lukas 17: 11-19) tentang 10 orang yang disembuhkan oleh Tuhan Yesus, hanya ada seorang yang kembali kepada Tuhan untuk mengucapkan syukur.

Romo juga mengingatkan kisah dari bacaan pertama (2Raj 5: 14-17) tentang Naaman, seorang perwira, yang disembuhkan oleh Nabi Elisa. Naaman kemudian kembali kepada Elisa mengucapkan terima kasih karena telah disembuhkan oleh Nabi Elisa.

Romo kemudian mengajak semua umat untuk senantiasa bersyukur, berterima kasih atas anugerah Tuhan yang selalu kita nikmati setiap hari. Romo mengatakan bahwa kemampuan bersyukur atas kebaikan Tuhan adalah sebuah tanda bahwa seseorang sadar sebagai seorang yang tergantung pada kuasa Allah dan pribadi ini menjadi sosok yang dekat dengan Tuhan.

Pada bagian selanjutnya Romo mengungkapkan bahwa Tuhan senantiasa mengalirkan kasih dan berkat-Nya kepada manusia. Namun, jika kita renungkan dari bacaan Injil hari ini, tidak banyak orang yang kembali datang kepada Allah untuk bersyukur.

Romo menyerukan agar kita selalu menyadari segala kebaikan dan kasih Allah supaya kita mudah bersyukur. Namun, jika kita sulit bersyukur jika kita menganggap apa yang kita peroleh semata-mata hasil dari upaya diri-sendiri tanpa peran-serta Allah. Romo mengatakan bahwa ketidakmampuan seseorang untuk berterima kasih dan bersyukur membuat seseorang sulit untuk menerima kebahagiaan dan kegembiraan hidup karena Tuhan tidak pernah diundang untuk masuk ke dalam hatinya.

Pada akhir homilinya Romo mengajak semua umat untuk selalu mensyukuri anugerah-anugerah Tuhan yang senantiasa dialirkan dalam hidup kita. Dengan demikian, kata Romo, kita bisa mengosongkan hati kita agar Tuhan hadir dalam diri kita memenuhi kebahagiaan kita.

Setelah misa selesai, komunitas AGAPE berfoto bersama Romo di depan altar dengan dihiasi balon warna-warni bertuliskan UBK KARAWACI, AGAPE WE LOVE YESUS.