Spiritual Pelayanan, Oleh-oleh dari Rapat Karya 2020

Dewan Paroki Karawaci mengadakan Rapat Karya (Sosialisasi Program Karya) 2019 pada hari Sabtu-Minggu 26-27 Oktober 2019 di Gedung Grha Paroki Karawaci. Dalam sesi Spiritualitas Pelayanan, Pastor Clemens Tribawa Saksana, OSC mengajak kita untuk mengikuti Yesus dalam menggembalakan domba-dombaNya dalam sikap pelayanan kita. Menjadi gembala yang baik yang mau memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.

Pastor Clemens Tribawa Saksana, OSC

Namun menjadi gembala yang baik adalah pekerjaan yang tidak mudah, kita sering menemui tantangan dan pengalaman yang tidak menyenangkan. Ajakan kegiatan lingkungan yang tidak disambut dengan baik, umat yang tidak pernah aktif dalam kegiatan dan hanya muncul di saat membutuhkan adalah contoh pengalaman yang tidak menyenangkan bagi kita pengurus lingkungan.

Saya pun pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan ketika melakukan kunjungan pada umat tidak pernah aktif, ketika itu saya hanya ditemui dari balik pintu yang terbuka sebatas lebar wajah. Dan kunjugan itu sama sekali tidak mendapatkan tanggapan karena yang bersangkutan merasa sudah tercatat di paroki lain walaupun sudah bertahun-tahun tinggal di lingkungan kami.

Berkaca dari tantangan dan pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan dalam pelayanan, Pastor Bowo mengajak kita untuk menyadari bahwa kita semua adalah umat Allah, ketika kita menemui umat lain yang sulit untuk diajak kerjasama dan bahkan menjadi batu sandungan maka kita kembalikan kepada Dia yang empunya umat.

Ketika kita sudah berusaha maksimal sebagai gembala yang baik namun kita tetap mengalami kesulitan dengan sesama umat yang lain maka yang dapat kita lakukan adalah mengembalikan pada Dia Sang empunya umat yang kita yakini telah mengatur rencana yang baik untuk semua umatNya.

Dalam menjalankan tugas pelayanan kita juga diajak untuk meneladan Yesus untuk menjadi ‘murah hati’ “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (Luk. 6:36) Kemurahatian Bapa diibaratkan seperti hujan yang turun bukan hanya untuk orang tertentu tetapi untuk semua. Dan Yesus sendiri juga sudah memberikan teladan nyata melalui semangat inkarnasinya yang turun ke dunia menjadi manusia dan pada puncaknya mengalami sengsara dan wafat untuk manusia. Suatu kesengsaraan yang pada akhirnya kembali dengan mulia melalui kebangkitanNya. (Bakti Setiawan, Pendamping Bidang Pewartaan)