Komitmen Prodiakon Paroki Karawaci untuk Melayani

Ada yang berbeda pada hari Minggu 24 November 2019, ramai Bapak – bapak hadir dengan para istri mereka mengenakan batik berbagai corak dan warna memenuhi gedung Graha lantai atas, mereka berkumpul untuk menghadiri acara Rekoleksi Prodiakon Paroki Karawaci Gereja St. Agustinus dengan tema “Diutus Untuk Melayani”.

Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB. Pastor Stefanus Suwarno. OSC hadir pertama memberi kata sambutan Rekoleksi Prodiakon, dimana Pastur menekankan pada semangat pelayanan.

“Semoga semangat melayani hendaknya tidak hanya di altar tetapi juga di keluarga dan sesama, dimana sikap dan perbuatan juga senantiasa menjadi inspirasi bagi orang-orang yang melihat atau bertemu dengan bapak/keluarga prodiakon, inilah panggilan Tuhan yang menjadikan pribadi dekat dengan Tuhan, harus ada penghayatan, ada hati dan iman apa yang kita berikan, memberikan tubuh dan darah Kristus harus dihayati, salah satu contoh bagaimana kita memberlakukan Hosti khusus. Menjadi Prodiakon adalah bentuk pelayanan, bukan pekerjaan, Apa bedanya pelayan dan pekerja? Seorang pekerja arahnya biasanya untuk diri sendiri tetapi pelayanan arahnya untuk Tuhan dan untuk sesama. Seorang pekerja merasa sudah bekerja banyak dan merasa berhak menuntut upah tetapi seorang pelayanan akan merasa belum berbuat apa – apa dan terus berbuat sesuatu, waktu untuk Tuhan diberikan terus menerus. Pekerja berorientasi pada apa yang akan diterima, tetapi seorang pelayanan akan berorientasi pada apa yang akan diberikan, seorang pekerja mengejar kesuksesan, tetapi seorang pelayan akan menghidupi kesetiaan. Semoga prodiakon terpilih sungguh menghayati sebagai seorang pelayan tidak sekedar pekerja, semata mata melayani untuk Tuhan dan sesama, diharapkan semangat melayani seperti apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam sebuah perumpamaan ‘kami ini hamba-hamba yang tidak berguna kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan’” papar Romo Warno dalam sambutannya.

Selain itu juga ada Bapak Yohanes BD Lim Tjoe Ong selaku ketua panitia yang menyatakan bahwa,“Semoga dengan acara rekoleksi ini Prodiakon menjadi dikuatkan dari pengajaran oleh narasumber, dan diharapkan para istri dapat memberi support kepada para suami selama menjalankan tugas sebagai prodiakon”.

Setelah itu, pemberi kata sambutan berikutnya adalah Bapak Stephanus Sihadi N dan Ketua Sie Liturgi, Bp. Marcellinus Widya Kuncara. Acara dibawakan oleh Bp. Stephen Jayadi Ramahalim dari tim Pekad dimana disisipi dengan Kidung pujian dan menyanyi bersama yang diiringi oleh organis mbak Ika.

Acara berlanjut kepada pembahasan, hadir sebagai narasumber Bapak YM. Seto Marsunu, beliau menyelesaikan pendidikan (S1) Filsafat – Teologi di STFT Widya Sasana Malang (1999) dan Teologi Biblis (S2) di St. Peter’s Pontifical Institute – Bangalore (2005), yang memberikan siraman rohani secara singkat yakni apabila kita mengikuti Yesus adalah semata – mata karena kita percaya kehidupan setelah kematian.

Pastor Bowo bersama perwakilan kelompok dalam acara Rekoleksi Prodiakon Paroki Karawaci

Bapak Seto Marsunu dalam paparannya mengatakan bahwa Iman Kristiani didasarkan pada relasi kasih (semua berdasarkan relasi antara Allah dengan manusia), dan semua bermula dari kasih Bapa kepada manusia. Apabila kita menyadari bahwa Tuhan mengasihi kita maka kitapun akan berusaha mengasihi Tuhan, mengacu pada Yohanes 3:16, ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal’”. Bapa ingin manusia menikmati hidup kekal, oleh karena itu Ia mengarunikan anaknya (pengorbanan Yesus di salib) untuk menyelamatkan kita dari dosa. Banyak bentuk perwujudan kasih dan pelayanan kita kepada Tuhan dan menjadi prodiakon adalah sebagai salah satunya. Bapak YM. Seto Marsunu sejak tahun 2000 bekerja di Biro Naskah Lembaga Biblika Indonesia (LBI), dan aktif di berbagai kursus kitab suci.

Sementara itu Pastor Clemens Tribawa S. OSC yang juga hadir menjelaskan bagaimana pelaksanaan, syarat dan kriteria dari pastoral perihal bagaimana pemilihan prodiakon.

“Sakramen adalah tanda dan sarana Rahmat Allah bagi keselamatan manusia (PS 104), Sakramen Ekaristi adalah pusat kehidupan bagi Gereja keseluruhan dan kehidupan bagi setiap orang beriman. Makin kita memahami apa yang ada dalam ekaristi dan unsur – unsurnya maka makin kita memahami iman kita. Bagaimana sikap kita selama Sakramen Ekaristi, kita sebagai pelayanan komuni suci apakah benar – benar kita pahami kehendak-Nya, termasuk saat pembacaan kitab suci hendaknya ada yang menggema dalam diri kita. Liturgi perayaan ekaristi bukan hanya sekedar kutipan – kutipan, dimana kitab suci menjadi dasar bagi liturgi dan terutama perayaan Ekaristi,” kata Romo Bowo.

Pelantikan prodiakon telah dilaksanakan Maret lalu dan membaur antara prodiakon lama dan prodiakon baru, mereka semua sama dalam semangat melayani Tuhan dan sesama. Bagimana semangat melayani dan kedamaian dirasakan oleh Bp. Yosef Setiono dari Lingkungan Kristoforus 2 yang telah memasuki tahun ke-7 dalam tugas prodiakon.

Pak Yosef menyampaikan,“Tuhan sudah mengasihi kita, sehingga kita lanjutkan dengan berbagi kepada sesama dalam bentuk pelayanan karena jika tidak dirasa ada hal yang kurang, bahagia dan bertumbuh dalam iman, berbagi dan melayani adalah salah satu hal yang mengingatkan dan menguatkan kita dalam menjalani hidup ini. Dalam pelayanan kita akan menemukan kedamaian dan perlu diungkapkan, saya juga bersyukur mendapatkan pendamping dan keluarga yang mendukung sehingga semangat melayani terus dijalankan dalam keluarga dan kepada sesama. Rekoleksi ini bagus dan para pembicara menerangkan dengan menarik menggunakan contoh sederhana sehari – hari tetapi maknanya mendalam”

Hal sependapat juga diutarakan oleh Bp. Trisno Yuwono yang baru menjabat menjadi Prodiakon periode ini “Melayani itu kita harus siap, dan sehubungan dengan pembahasan Pastur dan Narasumber yakni Ekaristi yakni komuni sebagai tubuh dan darah Kristus harus benar-benar kita hormati dan maknai, perihal acara rekoleksi ini bagus karena kita mendapat banyak pemahaman dan ilmu”

Acara ditutup dengan sesi foto bersama pada pukul 15.00 WIB. Bp. Wibi Yuswanto selaku panitia menyatakan “Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menjalin keakraban prodiakon dan didalam pelayanannya mendapat dukungan dari keluarga”.

Mari kita dukung para prodiakon dan semoga semangat pelayanan mereka selalu ada serta menjadi berkat selama menjalankan tugas. (Elfrida Risma)