Tentang Nama Santo Agutinus

Di sebuah rumah nan asri, penulis menemui Agustinus Hariyo Wibowo, salah satu anggota Depan Paroki (DP) awal Gereja Santo Agustinus. Sebagai anggota DP awal, Pak Haryo (nama panggilan akrab beliau) sedikit banyak ikut mewarnai perjalanan Gereja Santo Agustinus hingga menjadi sebuah Paroki. Berkarya sebagai salah satu instruktur penerbangan di Curug, alhasil dia tinggal disekitar Curug. Sebuah jarak yang jauh membentang dari rumahnya menuju Gereja. Apalagi tahun awal berdiri Gereja, sepanjang jalan Curug – Gereja masih sepi.

Pendirian Paroki Agustinus, kata Pak Haryo dapat disebut nekat lantaran belum ada wujud gedungnya. Masih menumpang di gedung sekolah Strada dan sedikit tambahan “tenda biru” bila ada Misa. Namun roh kudus selalu menyertai sebuah karya apabila karya tersebut bermakna dan memberi pencerahan bagi umat. Seperti halnya dengan pendirian Paroki Agustinus. Karya Roh Kudus tampak nyata. Tanpa gedung, tempat tinggal Romo Paroki yang terpisah dan luas pelayanan yang menjadi tanggungjawab – dari Perum, Pasar Kemis, Curug hingga Legok – akhirnya terwujud juga bangunan Gereja.

Mengutip pernyataan Uskup Leo Soekoto almarhum, “Pembangunan Gereja jika mendapat ijin pemerintah 10 tahun itu sudah bagus,” bagi Pak Haryo keberhasilan Paroki Santo Agustinus mendapat ijin untuk memperbaiki kawasan Gereja, bisa dikatakan penuh syukur. Gereja yang lokasinya kemudian di tengah kawasan padat dan lingkungan yang semakin reaktif terhadap keberadaan Gereja, membangun Gereja Santo Agustinus menjadi sebuah tempat ibadah yang nyaman dan tertib adalah berkah Gereja di usia 25 tahun. Berkah dari Atas yang pantas dijaga dan dirawat.

Kembali pada 25 tahun silam. Dari mana asal nama Santo Agustinus sehingga kemudian dipakai nama Gereja? Pak Haryo menuturkan, pada waktu itu muncul banyak usulan dari anggota DP. Ada yang usul Santo Yosep, karena Gereja induknya Santa Maria. Sehingga Gereja dengan nama Santo Yosep ini merupakan pendamping Gereja Santa Maria yang sudah ada di Tangerang. Sebuah usulan yang masuk akal. Lalu muncul usulan nama-nama kudus lainnya, termasuk di antaranya usulan untuk memakai nama Emanuel. Bahkan dalam surat bernomor 838/3.27.26/88 kepada P. Binzler Bintarto, SJ (Pastor Kepala Paroki St. Maria Tangerang saat itu) tanggal 25 Mei 1988, Mgr. Leo Soekoto sempat mengusulkan nama Emanuel untuk paroki baru yang ada di Perumnas Tangerang ini.

Karena peresmian Gereja akan dilakukan pada bulan Agustus, spontan Pak Haryo mengusulkan nama Santo Agustinus. Orang kudus Gereja yang merupakan intelektual dijamannya dan menjadi guru bagi banyak orang-orang kudus lainnya. Nama yang ternyata sesuai dengan nama baptisnya. Alhasil DP memberikan tiga atau empat nama untuk diberikan kepada Keuskupan Agung Jakarta dan KAJ pula kelak yang akan memutuskan namanya. Muncul SK dari KAJ dan nama yang diberikan adalah Santo Agustinus. Pada bulan Agustus 1988 lahirnya paroki baru di KAJ dengan nama Santo Agustinus.

Pemberian nama Santo Agustinus memang tidak salah. Sebagai pujangga dan intelektual Gereja, Santo Agustinus memberi banyak pengaruh pada perkembangan Gereja. Banyak murid Santo Agustinus yang kemudian menjadi intelektual-intelektual Gereja. Salah satunya Thomas Aquinas. Mirip dengan apa yang dilakukan oleh Santo Agustinus, Paroki Santo Agustinus Tangerang dalam perkembangannya ternyata melahirkan “anak-anak” baru yang kemudian menjadi Paroki. Gereja Santa Monica BSD, Santa Helene Lippo Karawaci, Santa Laurensia Alam Sutera, Santa Odilia Citra Raya, dan sebentar lagi menyusul Gereja Santo Ambrosius Villa Melati Mas merupakan “anak-cucu” dari Paroki Agustinus.

Melihat masa lalu untuk berefleksi adalah tindakan bijak. Memandang masa depan untuk melangkah yang lebih baik, merupakan sebuah kebajikan. Pun memandang Gereja Paroki Santo Agustinus untuk masa depan, sesudah 25 tahun berkarya. Pak Haryo memberi usul yang sangat sederhana namun sarat makna. Dari segi fisik, ia setuju kalau pembangunan Gereja Santo Agustinus menyesuaikan dengan kondisi setempat. Yang penting Gereja menjadi nyaman, aman dan bersahabat dengan lingkungan sekitarnya.

Untuk wujud non fisik dan itu berarti kegiatan, Pak Haryo memberi usulan. Pertama, aktivitas yang dilakukan oleh KAJ, Gereja Santo Agustinus juga memilikinya dan aktivitas itu berjalan. Gereja menjadi hidup. Gereja menjadi tempat berkumpul terbaik bagi umatnya, tidak saja sekedar berkumpul merayakan Ekaristi, namun juga berkumpul untuk berbuat baik kepada sesama. Gereja menjadi sarana berorganisasi yang baik. Gereja menjadi rumah bagi semua umat yang tersebar dari Lippo Karawaci Utara, Perumnas, Pasar Kemis hingga wilayah-wilayah lainnya.

Kedua, hubungan baik dengan pengelola sekolah Strada. Mau tidak mau karena lokasi Gereja menjadi satu dengan sekolah Strada, sudah pantas apabila dengan pengelola Strada terjadi hubungan baik yang menguntungkan kedua belah pihak. Gereja mendapat dukungan dari keberadaan fisik Strada, sekolah Strada mendapat dukungan sebagai sekolah pilihan karena di dalamnya ada Gereja Katolik.

Sudah 25 tahun Pak Haryo mengabdi untuk Gereja Santo Agustinus. Jatuh bangunnya Gereja Santo Agustinus, dia ikut menyaksikan dan mengalami. Pada 25 tahun ke depan sebuah harapan yang diinginkan Pak Haryo: Gereja yang melayani umatnya dan lingkungan sekitarnya.
(A.M. Lilik Agung)