HARI MINGGU MISI SEDUNIA-95 (HARI MINGGU BIASA XXX), 24 Oktober 2021

Bacaan I – Yer.31:7-9

“Dengan hiburan Aku akan membawa orang buta dan lumpuh”

Beginilah firman Tuhan: “ Bersorak-sorailah bagi Yakub dengan sukacita, bersukarialah tentang pemimpin bangsa-bangsa! Kabarkanlah, pujilah dan katakanlah: Tuhan telah menyelamatkan umat-Nya, yakni sisa-sisa Israel! Sungguh, Aku akan membawa mereka dari tanah utara, dan akan mengumpulkan mereka dari ujung bumi; diantara mereka ada orang buta dan lumpuh, ada perempuan yang mengandung bersama-sama dengan himpunan perempuan yang melahirkan; dalam kumpulan besar mereka akan kembali kemari! Dengan menangis mereka akan datang, dengan hiburan Aku akan membawa mereka; Aku akan memimpin mereka ke sungai-sungai, lewat jalan yang rata dimana mereka tidak akan tersandung sebab Aku telah menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Ku

Demikianlah Sabda Tuhan                                                                                                                                

U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN

Refren : Aku Wartakan karya agung-Mu Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan

Ayat Mazmur :

  • Ketika Tuhan memulihkan keadaan di Sion, Kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu, mulut kita penuh dengan tawa ria, dan lidah kita dengan sorak-sorai
  • Pada waktu itu, berkatalah orang diantara bangsa-bangsa ” Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini ” Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersuka cita.
  • Pulihkanlah kepada kami, Ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering ke tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan berosrai-sorai
  • Orang yang benar berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorai-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Bacaan II – Ibr. 5:1-6

Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya.

Menurut tata cara imamat Melkesedek.

Saudara-saudara, setiap imam agung, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan kurban karena dosa. Seorang imam agung harus dapat memahami orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan. Karena itu ia harus mempersembahkan kurban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri! Sebab setiap imam agung dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun. Demikian pula Kristus! Ia tidak mengangkat diri-Nya sendiri menjadi Imam Agung, tetapi diangkat oleh Dia yang berfirman kepada-nya: ‘Anak-Kulah Engkau! Pada hari ini engkau telah Kuperanakkan’ atau seperti firman-Nya dalam suatu nas lain, ‘Engkau adalah  Imam Melkisedek.’

Demikianlah Sabda Tuhan       

U. Syukur kepada Allah

Bacaan Injil – Mrk.10:46-52

Rabuni, semoga aku dapat melihat.”

Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Yerikho. Ketika Yesus keluar dari kota itu bersama murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya bahwa yang lewat itu Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru,”Yesus, Putra Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru,”Putra Daud, kasihanilah aku!” Yesus berhenti dan berkata,”Panggilah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya,”Teguhkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau”. Orang buta itu lalu menanggalkan jubahnya. Ia segera berdiri, dan pergi kepada Yesus. Yesus bertanya kepadanya,“Apa yang engkau kehendaki Aku lakukan bagimu?” jawab orang buta itu,”Rabuni, aku ingin dapat melihat!” Yesus lalu berkata kepadanya,”Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga ia dapat melihat. Lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.                                                                                                                                                                                                                                                                    Demikianlah Injil Tuhan       

U. Terpujilah Kristus.

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI MINGGU MISI SEDUNIA 2021

“Kami tidak mungkin untuk tidak berkata-kata tentang apa  yang telah kami lihat dan kami dengar” (Kis. 4:20)

Saudari-saudara terkasih,

Begitu kita mengalami daya kekuatan kasih Allah, dan menyadari kasih kebapaan-Nya dalam hidup pribadi dan komunitas, kita tidak bisa tidak mewartakan dan berbagi apa  yang  telah  kita lihat   dan   dengar.   Relasi   Yesus   dengan   para   murid   dan kemanusiaan-Nya     –    seperti     dinyatakan     dalam    misteri Penjelmaan-Nya – Injil serta misteri Paskah, memperlihatkan betapa  Allah  mengasihi  kita,  serta  menjadikan  sukacita  dan penderitaan,  harapan dan  keprihatinan  kita  milik-Nya  sendiri (bdk.  Gaudium  et  Spes,  22).  Segala  sesuatu  tentang  Kristus mengingatkan bahwa Ia mengetahui dengan baik dunia kita dan kebutuhannya akan penebusan, dan memanggil kita untuk aktif terlibat dalam misi ini: “Karena itu pergilah ke persimpangan- persimpangan  jalan  dan  undanglah  setiap  orang  yang  kamu jumpai” (Mat. 22:9). Tidak ada yang dikecualikan, tidak ada yang perlu merasa jauh atau diasingkan dari cinta yang penuh kasih sayang ini. Pengalaman para Rasul

Sejarah   evangelisasi   mulai   dengan   kehendak   Tuhan   untuk memanggil   setiap   orang   dan   berdialog   dengannya   sebagai sahabat (bdk. Yoh. 15:12-17). Para Rasul adalah yang pertama menceritakan   pengalaman   ini  kepada  kita.  Mereka   bahkan mengingat   waktu   dan   saat   ketika   mereka   pertama   kali menjumpai-Nya: “Waktu itu kira-kira pukul empat sore” (Yoh. 1:39). Mereka mengalami persahabatan Tuhan, menyaksikan Dia menyembuhkan  orang  sakit,  makan  bersama  orang  berdosa, memberi makan orang lapar, mendekat pada orang tersingkir, menyentuh    yang    najis,    menyamakan    diri    dengan    yang membutuhkan, menyatakan Sabda Bahagia dan mengajar dengan cara  yang  baru  dan  berwibawa,  meninggalkan  tanda  yang  tak terhapuskan padamereka, membangkitkan kekaguman, sukacita yang  besar  dan  rasa  syukur  yang  mendalam.  Nabi  Yeremia menggambarkan pengalaman ini sebagai salah satu kesadaran akan kehadiran Tuhan di hati kita, yang mendorong kita untuk bermisi,   terlepas   dari   pengorbanan   yang   diperlukan   dan kesalahpahaman yang mungkin terjadi (bdk. 20:7-9). Cinta selalu bergerak dan menginspirasi kita untuk berbagi pesan yang indah danpenuhharapan: “Kamitelahmenemukan Mesias”(Yoh. 1:41).

Bersama   Yesus,   kita   juga   telah   melihat,   mendengar   dan mengalami bahwa segala hal dapat berbeda. Bahkan sekarang, Ia telah membuka masa depan, dengan mengingatkan kita tentang dimensi kemanusiaan yang sering terlupakan, yaitu bahwa “kita diciptakan untuk sebuah pemenuhan yang hanya dapat dicapai di   dalam   kasih”   (Fratelli   Tutti,   68).   Masa   depan   yang membangkitkan  iman  yang  mampu  memunculkan  inisiatif- inisiatif baru dan membentuk komunitas pria dan wanita yang, dengan  belajar  menerima  kerapuhan  mereka  sendiri  maupun kerapuhan   orang   lain,   memperjuangkan   persaudaraan   dan persahabatan   sosial   (bdk.   Ibid.,   67).   Komunitas   gerejawi mengungkapkan  keagungannya  setiap  kali  mengingat  dengan rasa syukur bahwa Tuhan sudah lebih dulu mencintai kita (bdk. 1 Yoh. 4:19). “Kegemaran Tuhan untuk mencintai menakjubkan kita,  dan  ketakjuban  ini  pada  hakikatnya  tidak  dapat  dimiliki atau    dipaksakan    […]    Hanya    dalam    cara    ini    keajaiban kesukarelaan,  pemberian  diri  secara  tulus  dapat  berkembang mekar.  Semangat  misioner  juga  tidak pernah  dapat  diperoleh semata-mata  sebagai  hasil  dari  penalaran  atau  perhitungan. Menjadi  ‘dalam  status  misi’  merupakan  cerminan  dari  rasa syukur” (Pesan untuk Karya Kepausan, 21 Mei 2020).

Meski begitu, segala sesuatunya tidak selalu mudah. Jemaat Kristen perdana memulai hidup imannya di tengah-tengah permusuhan dan penderitaan. Pengalaman terpinggirkan dan terpenjara berpadu dengan pergumulan internal maupun eksternal yang tampaknya saling bertentangan dan bahkan meniadakan apa yang telah mereka lihat dan dengar. Tetapi, alih- alih berbagai kesulitan atau halangan itu menyurutkan mereka atau membuat mereka menutup diri, justru sebaliknya pengalaman-pengalaman itu mendorong mereka mengubah berbagai masalah, konflik, dan kesulitan menjadi kesempatan dan peluang untuk bermisi. Keterbatasan dan halangan menjadi kesempatan istimewa untuk mengurapi segala sesuatu dan semua orang dengan Roh Tuhan. Tidak ada sesuatu pun dan tak ada seorang pun akan dikecualikan dari pesan pembebasan.

Kita memiliki kesaksian yang hidup akan semua hal ini dalam Kisah Para Rasul, sebuah buku yang selalu mudah dimengerti oleh para murid yang diutus. Di sana kita membaca bagaimana keharuman Injil tersebar luas, dengan membangkitkan sukacita yang hanya dapat dicurahkan sendiri oleh Roh. Kitab Kisah Para Rasul mengajar kita untuk bertahan terhadap kesulitan dengan berpegang   teguh   kepada   Kristus,   supaya   tumbuh   dalam “keyakinan  bahwa   Allah  mampu   bertindak  dalam  berbagai situasi,  bahkan  di  tengah  hal-hal  yang  tampaknya  gagal”  dan dalam kepastian bahwa “semua orang yang mempercayakan diri pada   Allah   dalam   kasih   akan   berbuah  banyak”   (Evangelii Gaudium, 279). Hal yang sama berlaku bagi kita: masa sekarang ini tidak mudah. Pandemi masih terus berlangsung dan memperbesar rasa sakit, kesendirian, kemiskinan dan ketidakadilan yang telah dialami oleh begitu banyak orang. Pandemi ini telah membuka selubung kepalsuan  rasa  aman  serta  memperlihatkan  kehancuran  dan polarisasi   yang   diam-diam   merebak   di  tengah-tengah   kita. Mereka yang paling lemah dan rentan telah merasakan lebih dari itu.  Kita  putus  asa,  kecewa,  dan  lelah.  Kita  juga  tidak  kebal terhadap  hal-hal  negatif  yang  berkembang  menahan  harapan. Namun  kita  berpendirian,  “kami  tidak  mewartakan  diri  kami sendiri, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus” (2 Kor. 4:5). Hasilnya, dalam komunitas dan keluarga, kita dapat mendengar pesan hidup yang penuh kuasa menggema di hati dan kita mewartakan: “Ia tidak di sini, tetapi telah bangkit!” (Luk. 24:6). Pesan pengharapan ini menghancurkan  setiap  bentuk  determinisme.  Kepada  mereka yang    membiarkan    diri    disapa    olehnya,    pesan    tersebut melimpahkan kebebasan dan keberanian kreatif untuk bangkit dan  mencari  jalan  yang  mungkin  untuk  menghadirkan  belas kasih  dan  “sakramental”  kedekatan  Allah  kepada  kita,  yaitu kedekatan yang tidak menelantarkan siapa pun di sepanjang sisi jalan.

Pada masa pandemi ini, ketika ada godaan untuk mengaburkan dan membenarkan sikap tidak peduli dan masa bodoh atas nama menjaga    jarak    (social    distancing)    demi    kesehatan,    ada kebutuhan mendesak untuk misi belas kasih, yang menjadikan jarak yang diperlukan itu sebagai kesempatan untuk bertemu, peduli, dan menawarkan belas kasih tersebut. “Apa yang telah kami lihat dan kami dengar” (Kis. 4:20), belas kasih yang telah kita alami, dapat menjadi rujukan dan sumber kredibilitas, yang memampukan    kita    memulihkan    hasrat    bersama    untuk membangun “sebuah komunitasdi manakita saling memiliki dan setia  kawan,  mengalokasikan  tenaga  dan  sumber  daya  kita (Fratelli  Tutti,  36).  Sabda  Tuhan  setiap  hari  menolong  dan menyelamatkan      kita      dari      alasan-alasan      yang      dapat menjerumuskan kita ke dalamjenisskeptisisme terburuk: “Tidak ada  sesuatu  pun  berubah,  segala  sesuatu tetap sama.”  Kepada mereka     yang     bertanya-tanya     mengapa     mereka     harus menyerahkan   keamanan,   kenyamanan   dan   kesenangan   jika mereka  tidak  dapat  melihat  hasil  penting,  jawaban  kita  akan selalu sama: “Yesus Kristus telah menang atas dosa dan kematian dan   sekarang   mahakuasa.   Yesus   Kristus   sungguh   hidup” (Evangelii   Gaudium,   275)   dan   menginginkan   kita   hidup, bersaudara,   dan   mampu   menghargai   dan   berbagi   pesan pengharapan ini. Di lingkungan kita saat ini, ada kebutuhan yang mendesakakan misionarispengharapan yang, dipilih oleh Tuhan, dapat  menyampaikan  pesan  kenabian  bahwa  tak  seorang  pun diselamatkan oleh dirinya sendiri.

Seperti para Rasul dan jemaat Kristen perdana, kita juga dapat mengatakan  dengan  penuh  keyakinan:  “Kami  tidak  mungkin untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan kami dengar” (Kis. 4:20). Segala sesuatu yang telah kita terima dari  Tuhan  dimaksudkan  untuk  digunakan  dengan  baik  dan dibagikan dengan bebas kepada orang lain. Sama seperti para Rasul melihat, mendengar, dan menyentuh daya penyelamatan Yesus (bdk. 1 Yoh. 1:1-4), kita juga setiap hari dapat menyentuh daging   Kristus   yang   sedih   dan   mulia.  Di   sana   kita   dapat menemukan keberanian untuk berbagi dengan setiap orang yang kita jumpai takdir pengharapan, pengetahuan yang pasti bahwa Tuhan  selalu  bersama  kita.  Sebagai  orang  Kristen,  kita  tidak dapat mendekap Tuhan untuk diri kita sendiri: misi evangelisasi Gereja  menemukan  pemenuhan  lahiriah  dalam  transformasi dunia dan pelestarian ciptaan.

Undangan untuk kita masing-masing

Tema Hari Misi Sedunia tahun ini – Kami tidak mungkin untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan kami dengar” (Kis. 4:20) – merupakan panggilan kepada kita masing- masing untuk “memiliki” dan membawa kepada orang lain apa yang kita kandung dalam hati kita. Misi selalu menjadi tanda resmi Gereja, karena“Gereja adauntukmengevangelisasi” (Santo Paulus VI, Evangelii Nuntiandi, 14). Hidup iman kita melemah, kehilangan     daya     kenabian     dan     kemampuannya     untuk membangkitkan rasa kagum dan syukur ketika kita terisolasi dan menarik diri ke dalam kelompok-kelompok kecil yang tertutup. Pada  hakikatnya,  hidup  iman  menuntut  keterbukaan  terus- menerus  untuk  merangkul  semua  orang  di  mana  pun  juga. Jemaat  Kristen  perdana,  yang  jauh  dari  kata  menyerah  pada godaan untuk menjadi kelompok elite, didorong oleh Tuhan dan memberikan hidup barunya untuk pergi di antara bangsa-bangsa dan untuk memberikan kesaksian tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar: kabar baik bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Mereka melakukannya dengan kemurahan hati, rasa syukur dan keluhuran  budi  yang  menaburkan  benih-benih  pengetahuan bahwa orang lain akan menikmati hasil usaha dan pengorbanan mereka. Saya suka berpikir bahwa “bahkan mereka yang paling lemah,   terbatas   dan   bermasalah   dapat   menjadi   misionaris dengan   cara  mereka  sendiri,  karena   kebaikan  selalu  dapat dibagikan,  kendati ada  banyak keterbatasan  yang  mengiringi” (Chistus Vivit, 239).

Pada Hari Minggu Misi Sedunia, yang kita rayakan setiap tahun pada Minggu kedua terakhir Oktober, kita dengan rasa syukur mengenang semua orang baik laki-laki maupun perempuan yang dengan kesaksian hidupnya membantu kita untuk membarui komitmen baptis kita untuk menjadi rasul-rasul Injil yang murah hati dan penuh sukacita. Marilah kita secara khusus mengenangkan semua yang dengan gagah berani berangkat, meninggalkan rumah dan keluarga, untuk membawa Injil ke segala tempat dan kepada semua orang yang haus akan kabar keselamatannya.

Dengan merenungkan kesaksian misioner mereka, kita diilhami untuk  memberanikan  diri  dan  memohon  kepada  “Tuan  yang memiliki  panenan  untuk  mengirimkan  pekerja-pekerja  untuk panenan itu” (Luk. 10:2). Kita tahu bahwa panggilan kepada misi bukanlah perkara masa lampau, atau kenangan romantis masa lalu. Hari ini juga Yesus membutuhkan hati yang mampu mengalami panggilan sebagai kisah cinta sejati yang mendorong mereka pergi ke pinggiran dunia sebagai pewarta-pewarta dan pelaku-pelaku belas kasih. Ia menyampaikan panggilan ini kepada setiap orang, dan dalam cara-cara yang berbeda. Kita dapat memikirkan wilayah pinggiran di sekitar kita, di pusat kota atau keluarga kita sendiri. Keterbukaan universal pada cinta memiliki dimensi yang bukan sekedar geografis, tetapi eksistensial. Pada khususnya di masa pandemi ini, selalu penting mengembangkan kemampuankitasetiap hari untukmemperluas lingkaran kita, untuk menjangkau orang lain yang, meskipun secara fisik dekat dengan kita, tetapi tidak serta merta menjadi bagian dari “lingkaran perhatian” kita (bdk. Fratelli Tutti, 97). Untuk berada dalam misi, kita harus memiliki kehendak untuk berpikir seperti Kristus sendiri, untuk percaya bersama-Nya bahwa mereka yang ada di sekitar kita juga merupakan saudari- saudara kita. Semoga belas kasih-Nya menjamah hati kita dan menjadikan kita semua murid-murid sejati yang diutus.

Semoga Maria, murid pertama yang diutus, meningkatkan dalam diri  semua  orang  yang  telah  dibaptis  hasrat  untuk  menjadi garam dan terang dunia (bdk. Mat. 5:13-14).

Roma, Santo Yohanes Lateran,

6 Januari 2021 Hari Raya Penampakan Tuhan`

Fransiskus