Service Motor Pelita Kasih
Untuk service / perbaikan sepeda motor, bisa menghubungi pak Martinus Tri Winarto,
Untuk service / perbaikan sepeda motor, bisa menghubungi pak Martinus Tri Winarto,
Panitia Penggerak Tahun Keadilan Sosial (PPTKS) dan Seksi Pengembangan Sosial Ekonomi (SPSE) Paroki Karawaci telah berhasil mengadakan pelatihan Service AC untuk umat pra sejahatera yang dilatih oleh umat Paroki Karawaci juga.
Apabila Bapak, Ibu akan melakukan Servcie/Perbaikan AC,bisa menghubungi/WA ke pak Aphin dengan no contact 0815-8616-6068
Semangat Pagi Ibu dan Bapak Ketua Lingkungan yang terkasih,
Dengan merebaknya pandemi covid-19 di negeri kita, mengakibatkan dampak yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh karenanya Panitia Penggerak Tahun Keadilan Sosial Tingkat Keuskupan Agung Jakarta (PPTKS-KAJ) mengajak seluruh Paroki untuk berperan serta berbela rasa bagi umat yang terdampak akibat wabah tersebut.
Berdasarkan beberapa saran yang disampaikan oleh PPTKS-KAJ, maka Paroki Karawaci akan melakukan gerakan sebagai berikut :
1. Mengumpulkan peralatan dapur yang berlebih
2. Mengumpulkan baju/pakaian yang masih layak
Kami mengajak seluruh Lingkungan /umat Paroki yang memiliki peralatan dapur berlebih dan pakaian yang masih layak untuk dikumpulkan di Sekretariat Paroki mulai tanggal 15 – 31 Oktober 2020
Mari kita berperan serta dan berbela rasa kepada sesama – sekecil apapun nilai bantuan yang kita berikan akan sangat berarti bagi mereka yang sangat membutuhkan.
Terima kasih atas perhatian dan partisipasinya.
Salam sehat – Tuhan memberkati 🙏🏻
Setiap manusia merupakan pencerita dan penerima cerita dalam kehidupannya, dengan membahas informasi yang sedang diperbincangkan. Apalagi, di tengah pandemi global covid-19 (virus corona baru) sekarang ini. Namun jika tanpa disaring terlebih dahulu, maka kita akan mudah terbawa arus menyebarkan informasi palsu (hoax). Bapak Paus Fransiskus pun sempat membahasnya dalam pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2020, yaitu Hidup Menjadi Cerita.
“Sebagai makhluk pencerita, manusia dipengaruhi oleh beragam cerita yang membantunya memahami siapa dirinya sesungguhnya dan menjaga hidupnya,” pesan Bapak Paus.

Saya sangat setuju. Apalagi tidak semua cerita baik, terutama Ketika cerita bohong atau hoax disebarkan berulang-ulang. Contohnya, beberapa teman saya pernah terpengaruh oleh hoax dari broadcast WhatsApp. Dikatakan bahwa covid-19 bisa menular melalui handphone buatan Cina. Sontak beberapa teman yang memiliki handphone tersebut merasa khawatir, cenderung ketakutan. Dikatakan juga masker dapat melindungi diri dari virus dan hanya menyerang kelompok rentan. Maka baginya, remaja boleh bebas beraktivitas di luar rumah asalkan menggunakan masker.
Saya pun teringat banyak orang berbondong-bondong pergi ke gerai McDonals Sarinah Jakarta, demi mengabadikan momen terakhir. Mereka mempublikasikannya sebagai konten di media sosial. Termasuk teman saya, yang awalnya tidak ragu pergi ke McDonals Sarinah di hari terakhir restoran itu buka. Ia mendapatkan kabar bahwa akan aman walau di tengah pandemi covid-19. Setibanya di sana, ia sadar terdampak hoax, karena ternyata ada banyak orang di lokasi itu. Tetapi karena sudah terlanjur datang, teman saya pun pasrah dan menikmati susana.
Waktu berlalu, teman saya panik setelah tahu orang yang ditemuinya di Mc.D Sarinah ternyata positif covid-19. Ya, tidak sesederhana yang kita bayangkan, karena siapapun bisa terpapar covid-19. Keluarganya pun menyalahkan dirinya karena terpengaruh pergi ke lokasi itu, menyebabkan pertengkaran di rumah. Bukan hanya itu saja pengaruhnya. Hoax bisa juga bisa merusak hubungan pertemanan atau persaudaraan
Hoax, Memicu Pertengkaran
Pada suatu Ketika, teman saya menyebarkan pesan di grup WhatsApp tentang keharusan pemakaian disinfektan. Benda di sekitar rumah wajib disemprot dengan cairan disinfektan demi menghalang penyebaran virus corona. Informasi itu pun dijadikan bahan promosi untuk dagangan teman saya.
Celakanya, disinfektan disemprotkan ke barang apa pun yang berasal dari luar rumah, termasuk obat-obatan dan makanan. Salah satu teman saya dengan geram mengatakan informasi itu salah. Argumen yang dipenuhi emosi pun terjadi.
Saya mencoba bertekad menyampaikan fakta bahwa disinfektan tidak boleh sembarang digunakan. Agar tidak menyinggung teman yang berjualan disinfektan, saya menjelaskan cairan itu boleh disemprotkan ke benda-benda tertentu. Sebagai penguat pernyataan, saya sertakan link berita yang kredibel mengenai disinfektan.
Tidak hanya itu, banyak hoax juga menyebar di kalangan public figure, contohnya tentang cerita konspirasi di tengah covid-19. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang melirik bahkan meyakini, hingga menyudutkan pihak tertentu. Padahal, kita tidak tahu apakah informasi itu benar.
Mirisnya cerita tersebut sampai di satu komunitas katolik. Timbulah perbedaan pandangan, perdebatan, mudah tersinggung, hingga permusuhan. Padahal, seharusnya umat katolik Indonesia dapat memaknai sekaligus menerapkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan hukum kasih yang diajarkan Yesus Kristus. Lalu, apakah pantas menyebarkan cerita yang mengakibatkan perpecahan dan sakit hati bagi sesama?
Mencari Fakta dan Membagikannya
Menurut saya, di tengah wabah corona baru ini penyebaran informasi positif perlu dilakukan. Meskipun setiap orang bebas berpendapat, namun sebaiknya tidak menyimpang dari fakta atau membelah persatuan. Hal ini dibahas dalam pesan Paus Fransiskus untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-54.
“Karena itu, manusia harus bijaksana dan berani menolak cerita palsu dan jahat dan kembali mencipta cerita-cerita indah, benar, dan baik,” kata Paus.
Supaya manusia memahami dirinya dan menjaga hidupnya, perlu pertimbangan ketika hoax tersebar di grup WhatsApp. Apakah hoax itu berhenti di kita sebagai pendengar yang baik, atau kita menjadi pencerita yang buruk karena ikut menyebarkannya?
Memang tidak mudah untuk menjahit kembali yang putus dan terbelah akibat hoax. Tetapi dengan upaya yang tepat, perlahan akan tercipta kedamaian. Mari menyebarkan cerita baik kepada orang-orang di sekitar kita, agar tidak ada kekhawatiran atas ketidakpastian.
Plastik pada zaman sekarang ini sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari hari,tetapi sangat sedikit orang yang peduli bahwa plastik juga menciptakan sampah yang dapat mencemari bahkan merusak lingkungan.
Sifat plastik yang sulit terurai karena perlu watu ratusan tahun untuk terurai sempurna ,jika dibuang atau terbuang secara ilegal dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan yang serius sehingga sangat berdampak pada keseimbangan alam.
Isu global mengenai sampah plastik ini juga ditangkap oleh Gereja Katolik tak terkecuali Paroki Karawaci Gereja St.Agustinus sebagai isu yang perlu disikapi nyata dalam kehidupan umatnya.
Umat diajak berperan nyata dalam menangani sampah plastik antara lain dilakukan di Lingkungan Gereja dengan gerakan BBM ( Bawa Botol Minum )disetiap kegiatan sebagai upaya untuk mengurangi sampah plastik kemasan air minum sekali pakai.
Memilah sampah Organik dan Non Organik juga senantiasa dikampanyekan termasuk menyediakan tempat sampah terpilah di area lingkungan Gereja.
Pada tahun Keadilan Sosial 2020 Panitia penggerak juga akan melakukan Gerakan Peduli sampah plastik yang melibatkan umat Paroki dengan cara “ Donasi Sampah Plastik”.
Setiap keluarga diharapkan tidak membuang sampah botol atau gelas plastic melainkan mengumpulkan untuk didonasikan ke Lingkungan masing masing sehingga dapat dikoordinir untuk dapat dilakukan penanganan yang lebih baik.
Dengan gerakan ini diharapkan setiap umat dapat mulai dibiasakan untuk tidak membuang sampah plastik secara ilegal sehingga sungguh dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan dalam perilaku sehari-hari.
Melalui gerakan ini diharapakan terbentuk budaya peduli sampah plastik diseluruh umat sehingga semangat adil terhadap lingkungan, sebagai wujud dari iman Katolik sungguh dapat menjadi menjadi pola hidup keseharian.
TABUT sebagai bentuk solidaritas umat dalam bentuk simpanan uang yang ditabung di bank merupakan wujud kepedulian terhadap pembangunan gereja di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).
Tabungan Umat (TABUT) akan dikembalikan dengan cara ditransfer langsung ke rekening yang tercatat sesuai formulir pendaftaran.
Transfer dilakukan pada bulan ke-39 yg dihitung sejak periode kepesertaan.
Contoh:
Dekorasi Natal tahun 2019 ini mengangkat isu peduli Lingkungan Hidup yaitu memanfaatkan bahan limbah yang tidak terpakai sebagai bahan utama pembuatan Gua Natal dan Pohon natal.
1.Gua Natal
Gua Natal mengangkat tema gua alam dengan bahan utama bekas sak semen dan dibuat disudut sebelah kanan altar Gereja.
2.Pohon Natal
Pohon Natal di desain menerupai pohon cemara dengan bahan dari botol bekas air mineral setinggi 6 meter sebagai pohon utama dan 2 pohon kecil lainya setinggi 1.5 meter di halaman Gereja.
Adapun tujuan digunakanya bahan daur ulang ini adalah untuk edukasi dan kampanye kepada umat untuk peduli lingkungan hudup dengan memanfaatkan sampah menjadi barang yang berguna sekaligus bernilai.
Botol bekas pohon Natal juga akan dibagikan kepada umat sebagai bahan pembuatan celengan gerakan tahun Keadilan 2020 dan sisanya akan didonasikan kepada umat untuk dijual kepada penepul sehingga tidak mencemari Lingkungan.
Pembuatan Dekorasi Natal ini melibatkan umat dalam partisipasi pengumpulan bahan yang digunakan dan perakitanya bekerjasama dengan paniatia Natal,Sub Seksi Lingkungan Hidup,anak ASAK,Relawan KOMPLEG (Komunitas Pelataran Gereja) dan umat dari Lingkungan/Wialayah.
Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) tahun 2016-2020 mengamanatkan sebuah gerak kehidupan menggereja dengan tema besar: “Amalkan Pancasila”. Arah Dasar ini dilaksanakan untuk mencapai tujuan Gereja yang dicita-citakan. Dalam rangka itu setiap tahunnya, pastoral evangelisasi KAJ mengangkat tema-tema yang selaras dengan sila-sila Pancasila dalam gerak hidup menggereja.
Tahun 2020, Arah Dasar KAJ akan memasuki tahun terakhir tema besar “Amalkan Pancasila”. Pastoral Evangelisasi 2020 ini dinamakan TAHUN KEADILAN SOSIAL. Mengangkat sub-tema: “AMALKAN PANCASILA: KITA ADIL, BANGSA SEJAHTERA” untuk mewujudkan nilai-nilai sila-5 Pancasila: “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Nilai sila-5 Pancasila menegaskan bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus tercipta keseimbangan yang sesuai antara hak dengan kewajiban. Sebagai anggota masyarakat sebangsa setanah air, kita harus menghormati hak-hak yang dimiliki orang lain, bersikap adil, dan suka menolong sesama jika diperlukan.
Berikut ini adalah lagu Tahun Keadilan Keuskupan Agung Jakarta yang berjudul Kita Adil, Bangsa Sejahtera karya Romo Aloysius Susilo Wjoyo, Pr.
Dokumen PDF lagu ini bisa didownload
Dokumen PDF lagu ini bisa didownload
Penerimaan Sakramen Penguatan atau Krisma di Paroki Karawaci Gereja St. Agustinus berlangsung hari Minggu, 8 Desember 2019. Total ada 225 orang menerima Sakramen Krisma, yakni sebanyak 223 umat Paroki Karawaci Gereja St. Agustinus dan dua orang dari Paroki Serpong Gereja Santa Monika.
Pada sakramen kali ini, hadir Bapak Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo. Dalam homilinya, ia mengajak seluruh umat yang hadir untuk saling mendoakan, khususnya bagi para penerima Sakramen Penguatan yang akan menerima sapta karunia roh kudus, salah satunya ialah roh pengenalan akan Allah.
Pembahasannya cukup berat, karena dinilai pengenalan akan Allah bisa berbeda, antara Allah yang kita pahami dan alami dalam kehidupan sehari-hari. Paham yang berbeda ini lah akan menentukan perilaku yang berbeda juga.
“Saya yakin kita semua mempunyai pengalaman, ketika perbuatan baik sekecil apapun ternyata sangat berarti bagi orang lain. Itulah namanya mewartakan pengenalan akan Allah yang benar,” ucap Kardinal.
Bapak Kardinal juga mengajak seluruh umat supaya bersama-sama memohon agar keluarga dan komunitas bisa bertumbuh subur atas pengharapan, iman, dan kasih. Kemudian, pada adven ini juga diajak untuk bertumbuh dalam pengharapan, sesuai dengan yang dikatakan oleh Rasul Paulus.
Pengharapan yang isinya damai sejahtera yang akan dibawa oleh Tuhan sendiri. Hampir tidak masuk akal jika digambarkan dalam kehidupan sehari-hari. Damai sejahtera seperti kondisi serigala yang tinggal dengan domba.
Namun keyakinannya tetap, yakni akan datang kabar damai sejahtera semacam itu. Syaratnya, tidak ada lagi yang akan berbuat jahat atau berlaku buruk karena di seluruh bumi penuh dengan kemenangan akan Tuhan.
Hal tersebut merupakan salah satu dari tujuh anugerah roh kudus dan secara khusus, pengenalan akan Tuhan yang tepat adalah tidak ada seorang pun yang berbuat jahat dan busuk. Bagaimana kita mengenal bahwa Allah adalah kasih.
“Semoga kita semua dipimpin dibantu oleh roh kudus sampai kepada pemahaman dan pengalaman yang benar akan Allah dan pada waktunya mewartakan pengenalan akan Allah itu. Itulah syarat supaya harapan kita damai menjadi kenyataan,” tambahnya.
Tidak terasa 2019 menjadi tahun ketiga Kelompok Karyawan Muda Katolik (KKMK) Paroki Karawaci Gereja Santo Agustinus mengadakan STARBAK (Satukan Arah Tujuan Bersama KKMK) dengan tema “FunCamp with KKMK”. Acara ini bertujuan untuk menjalin keakraban dengan teman-teman yang belum bergabung dalam KKMK, kebersamaan tetap bisa dirasakan dan ikut tumbuh bersama dalam Tuhan.
Peserta berangkat pada 9 November 2019. Sejak pukul 05.30, para panitia telah berkumpul di Paroki Karawaci Gereja Santo Agustinus. Kesibukan mulai terlihat. Ada yang mempersiapkan perlengkapan untuk dibawa, bertugas di bagian registrasi ulang, dan ada juga yang bertugas menjemput pastor Paulus Ulipi, OSA atau sering dipanggil Pastor YAP.
Waktu telah menunjukkan pukul 07.00. Setelah berdoa bersama, perjalanan menuju Herman Lantang Camp, Curug Nangka, Bogor pun dimulai. Dari Karawaci, perjalanan menghabiskan waktu tempuh sekitar 3 jam. Sesampai di Curug Nangka, bus yang mengantar peserta tidak bisa berhenti di depan penginapan karena rute yang menanjak. Alhasil, kami pun diturunkan di Highland. Selanjutnya, sebagian peserta diantar oleh mobil yang disewa untuk Tim Advance. Sebagian peserta lainnya lebih memilih berjalan kaki menuju Herman Lantang Camp.
Pekerjaan dan percintaan
Rangkaian STARBAK dibuka dengan permainan tebak-tebakan jenaka sembari menunggu jam makan siang. Selanjutnya, sesi perkenalan dimulai. Ini sangat diperlukan agar seluruh peserta bisa saling mengenal satu sama lain. Agar lebih kompak, ada juga sesi pembagian kelompok. Ada 4 nama kelompok yang telah dibentuk, yaitu kelompok Air, Jangkrik, Mbah Dukun, dan Menyan.
Keseruan STARBAK tentunya tak lepas dari obrolan seputar pekerjaan dan percintaan di kalangan KKMK. Inilah yang menjadi topik bahasan pada sesi sharing. Mulai dari kisah kasih yang pernah terjalin hingga cerita tentang perasaan kecewa dalam menjalin cinta. Sesi sharing ini juga membahas tentang cara mencari jalan keluar ketika masalah itu terjadi dalam hidup.
Karena obrolan yang santai, peserta pun begitu antusias untuk bercerita. Mereka ikut berbagi pengalaman, ada yang merasa cepat menemukan pasangan yang baru. Ada juga yang berusaha untuk selalu berpikir positif dalam situasi apapun.
“Ketika mengalami persoalan dalam percintaan, saatnya mulai mencari kegiatan-kegiatan yang bisa membuat cepat lupa. Fokus pada kerjaan di kantor dan pelayanan. Jangan sampai putus cinta menghambat cita-cita,” kata salah satu peserta.
Usai sesi sharing, peserta dan panitia mempersiapkan diri untuk misa pada pukul 16.30. Semua berkumpul di lapangan kecil di tengah area kemah berlatar pemandangan gunung dan hutan. Kami menjalankan ibadah misa di tengah-tengah alam. Begitu asri dan tenang. Ditambah lagi, masih terdengar suara kicauan burung. Semakin meneduhkan berkat homili Pastor YAP yang mengajak kita untuk melayani dengan hati dan menjaga persaudaraan dengan sesama.
Tonight Show
Pada malam hari, keseruan STARBAK belumlah berakhir. Semakin malam, tentunya semakin bersemangat. Peserta yang telah dibagi menjadi 4 kelompok mempersembahkan penampilan spesial dalam acara Tonight Show. Ada yang membuat parodi, membaca pantun, dan berpuisi. Malam itu membuat kami yang tadinya diam-diam saja mulai terasa akrab, tak ingin pula acara ini lekas berakhir.
Acara malam hari juga diisi dengan berdoa Taize di tengah hangatnya api unggun. Dipandu oleh Kak Esta, semua berdoa dengan khusyuk. Dinginnya malam kala itu benar-benar tak menyurutkan kehangatan yang telah terjalin di antara para peserta.
Setelah berdoa, saatnya sesi bebas. Para panitia mempersiapkan bara api untuk memanggang jagung, tim perlengkapan juga menyiapkan daging untuk dibakar saat malamnya. Sementara itu, sebagian peserta ada yang asyik bermain gitar, memasak mi, kembali bermain gim, atau melanjutkan cerita-cerita yang belum tuntas diceritakan. Sungguh malam yang menyenangkan dan penuh dengan momen keakraban.
Outbound
Keesokan hari, waktunya acara outbound. Ada beberapa permainan dalam STARBAK kali ini. Mulai dari lempar balon, human train, dragon ball, dan shoot paper. Beragam permainan ini bertujuan untuk mengajarkan kekompakan dan komunikasi. Kegiatan ini berjalan lancar dan seru. Semakin semangat, kegiatan outbound ditutup dengan perjalanan menuju air terjun yang jaraknya sekitar 1 kilometer.
Bermain-main di area air terjun menjadi agenda kegiatan terakhir peserta STARBAK. Sebelum semakin siang, kami semua kembali ke Herman Lantang Camp untuk membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pulang. Sebelum kembali pulang ke Karawaci, kami semua menuju kegiatan STARBAK dengan doa dan berkat oleh Romo YAP.
Dimas Rian selaku Ketua Panitia Starbak 2019 mengatakan, “Semoga STARBAK ini dapat menyatukan anggota KKMK Paroki untuk terus menjadi aktivis-aktivis muda di gereja dan masyarakat. Semoga semua anggota KKMK Paroki Karawaci terus bersemangat untuk membangun KKMK ke depan sehingga dapat mewujudkan tujuan KKMK.”
Dimas juga berterima kasih kepada semua panitia. Sejak awal pembentukan panitia, ia optimistis. “Panitia yang saya pilih adalah panitia pilihan Tuhan. Semoga kita semakin sukses dan semangat dalam membangun KKMK,” pungkasnya.
Ditulis oleh Yoseph Erwin Wuarmanuk, Komsos Paroki Karawaci Gereja Santo Agustinus. Foto-foto oleh Michael Loanda, Komsos Paroki Karawaci Gereja Santo Agustinus.